Selasa, 27 Mei 2014

I moved my blog

Hi Guys..
Saya telah memindahkan blog ke www.gemalahanafiah.wordpress.com atau bisa juga langsung diakses dari www.gemala.me
Semua isi dariblog sebelumnya sama, tapi untuk terus mengikuti cerita-cerita yang baru, please visit alamat di atas.

Terima kasih

Gemala

Minggu, 27 April 2014

Let's Waxing!!

Paling seneng kalau baru terima surfboard baru, masih mulus nan sexy apalagi kalau ada desain tertentu diatasnya yang kita suka banget. Gemeees! Tapi segemes-gemesnya kita dengan surfboard baru itu, jangan sampai nih nggak mau di kasih wax karena alasannya : “ sayang ah, kan masih bersih gini, biar kaya baru terus”

Menggelikan? Iya memang. Tapi ini benar-benar terjadi loh! Saya pernah bertemu dengan seorang pemula yang menenteng-nenteng papan barunya. Karena ia duduk disebelah kami bersama papan gresnya itu, tanpa berhasil menahan rasa kepo saya tanya “ Kok nggak di wax?”. Dan begitulah tadi jawabannya. Saya bengong.

Wax itu demikian pentingnya, sampai kalau seorang surfer ketinggalan wax dan tidak ada orang lain yang bisa diminta wax nya, hal itu bisa mengganggu seluruh sesi surfing selanjutnya. Bisa kepleset-kepleset balet nggak jelas diatas board nantinya. Yak, karena memang wax itu gunanya untuk meng – keset – kan bagian atas surfboard, dimana kaki kita berpijak. Bukan keset karena daun sirih yaaaa #apasih.

Percaya deh, tanpa wax, susah banget kaki kita mencengkram diatas board, walaupun sudah pakai grip sekalipun. Naaah, sekarang, biar keren dan rapi nih, berikut cara-cara mengaplikasikan wax yang asik :


sebaiknya aplikasikan wax dasar terlebih dahulu. Wax dasar lebih keras dan tahan lama. Pada papan yang masih mulus wax diaplikasikan dengan menarik garis diagonal ke dua arah sehingga membentuk huruf X. Tujuannya agar wax tahap kedua nanti lebih mudah merekat dan rapi. Semakin rapat dan ramping garisnya, semakin bagus.


• Setelah wax dasar, giliran wax berikutnya yang nggak sekeras wax pertama. Kalau nggak ada wax dasar, bisa juga juga langsung wax biasa. Cara menggosoknya dengan gerakan memutar, agar tebalnya merata.


• Area yang diaplikasikan adalah dekat dari grip atau dari ujung bawah board ( jika tidak menggunakan grip / pijakan kaki ) sampai kurang lebih pada posisi depan kakimu nanti. Coba saja dulu stand kamu disamping board untuk memperkirakannya. Satu tips lagi, ketika kita melakukan duck dive, terkadang mudah terlepas karena pegangan yang licin di sisi board, coba aplikasikan juga sedikit dia daerah pegangan kita.

Surfboard yang sudah ber-wax sebaiknya nggak terekspose matahari terlalu lama, karena wax itu sendiri mudah meleleh. Begitu juga dengan terkena badan atau rushguard kita saat paddling wax akan berkurang sedikit demi sedikit. Itulah alasannya kenapa sebaiknya sebelum sesi surfing, wax sebaiknya ditambahkan lagi dengan cara pengaplikasian no.2


Ok, wax your board, n hit the wave!

Senin, 07 April 2014

Tips How to Selfie While Surfing


Selfie udah jadi kebutuhan primer di dunia persocialmediaan sekarang, nggak di darat atau di laut kebutuhan itu tidak pernah berubah sebenarnya. Meskipun banyak yang menghujat, tapi pada dasarnya hampir setiap orang punya jiwa narsis yang harus disalurkan, nah salah satunya dengan selfie ini.

Kita bisa membuat sebuah selfie yang tidak standar dengan pemilihan background yang tidak standar. Salah satunya adalah selfie saat menunggangi ombak. Berikut tipsnya:

• Pastikan kameramu tahan air, tanpa casing.
Saat ini ada beberapa macam brand yang memang memiliki kamera waterproof tanpa casing, ini akan sangat membantu karena lebih sederhana dan mudah dibawa-bawa.

• Gunakan peralatan tambahan yang disediakan.
Beberapa kamera yang diperuntukan untuk ekstrim sport mempunyai tambahan pegangan atau pengikat yang bisa mempermudah saat membawanya, seperti kaitan pada tangan. Untuk surfing malah sudah tersedia pengikat yang bisa ditempelkan pada ujung papan surfing segala.

• Gunakan alat pengapung
Ini sangat disarankan, rasa kehilangan kamera karena tenggelam saat telah mendapatkan ombak bagus itu nyeseknya dua kali! Kehilangan kamera dan kehilangan foto bagus. Alat pengapung basanya sudah disediakan sebagai aksesoris tambahan dari kamera.

karet hitam ditambahkan untuk digigit. Pegangan kuning ini mengambang.


• Kreatif dengan cara membawa
Untuk surfing, membawa kamera saat paddle memang bukan pekerjaan mudah, belum lagi kalau harus melakukan duck dive atau menyelam menembus ombak saat ombak besar datang. Coba ikatkan gagang kamera pada sesuatu yang enak untuk digigit, sehingga kita bisa mengigitnya dan tangan bebas untuk paddle. Atau bisa juga dikalungkan, tapi perhitungkan juga waktu yang dibuthkan untuk melepas kalung dan memindahkan kamera ke tangan. Karena tidak semua ombak itu santai.

• Gunakan pengaman tambahan
Tali adalah pilihan bijak, baik untuk dikalungkan atau untuk dikaitkan di tangan, tergantung kebiasaan saja. Baik juga untuk menambahkan pegangan yang mengapung yang mengapung sebagai alat bantu mengapung tambahan. Perlu juga diperhitungkan jika pinggiran pantainya batu atau karang, akan bisa merusak kamera jika sampai terlepas dan terbawa buih hingga ke pinggir.

• Posisi kamera

 Apakah ombakmu barrel atau biasa, keren2 aja 
kamu pegang dengan tangan depan atau belakang, keduanya bisa menunjukkan ke –barrel-an mu juga jalur gerakan boardmu kalau melakukan maneuver. Yang perlu diingat adalah selalu lirik ke kamera untuk memastikan arah lensanya, jangan sampe udah susah-susah tapi malah muka nggak masuk frame.


kamera saya pegang dengan tangan depan



Naah ini dia versi seriusnya :
taken from Instagram Marlongerber
kamera dipegang pada tangan depan

taken from Instagram Marlongerber
kamera dipegang pada tangan belakang

Selamat ber #selfie ria di #ombak #wave :)))))




Sabtu, 15 Maret 2014

Tips belajar surfing di Batukaras

Berkali-kali diekspose media, bahkan sampe masuk lonely planet segala, Batukaras emang udah beken banget. Sebagai tempat belajar, Batukaras juga pas banget karena karakter ombaknya yang ramah untuk pemula, pleus nggak ada karang di dasar tempat bermainnya. Karangnya hanya menclok sebagian di pinggir.

Untuk menuju kesanapun banyak cara yang bisa ditempuh. Oya, letaknya di Jawa Barat bagi yang belum tau secara pasti posisi Batukaras ini. Nggak jauh dari Pangandaran. Baik trasportasi publik maupun mobil pribadi, bisa menjangkau tempat ini, hanya saja harus kuat duduk karena jaraknya yang lumayan kalau dari Jakarta, sekitar 8 sampai 10 jam tergantung kelancaran lalu lintas. Bagi yang pengen lebih cepat, ada pula penerbangan regular dari Halim dan Bandung dengan Susi Air, hanya 40 menit saja.

Naah, ternyata eh ternyata, setelah beberapa teman saya berkunjung kesana untuk belajar surfing, mereka malah mengeluh karena Batukaras ramai banget! Turis yang datang banyak, surfer lokal juga banyak, ditambah pula surfer anak-anak yang masih semangat mengambil ombak tanpa henti. Untungnya Batukaras ini mempunyai ombak yang sangat panjang, sehingga area surfingnya tidak terbatas di satu titik sempit saja. Berikut beberapa tips untuk teman-teman yang mau belajar surfing di Batukaras :

• Pada saat pertama kali berkunjung pastinya akan melihat longboard dan sortboard hilir mudik di ombak-ombak Batukaras. Hal ini tentunya memancing rasa ingin mencoba. Sangat disarankan bagi yang baru pertama kali mencoba surfing untuk mencari ‘guru’ dari surfer lokal setempat. Akan lebih bijaksana jika kita mengenal bahaya yang mungkin ada seperti terantuk papan karena salah posisi saat ombak datang. Guru atau instruktur juga dapat mengajari dasar-dasar surfing sebelum kita terjun langsung, hal ini akan mempersingkat waktumu untuk mencoba memahami dasar dari surfing tersebut.

• Ombak yang pecah di area depan disebut point Pertama. Point ini cenderung lebih cepat dan serius ombaknya karena dasar yang lebih dangkal dan berkarang. Tidak disarankan bagi pemula untuk surfing di area ini (point pertama ) karena akan membahayakan diri sendiri dan juga surfer lainnya.

Bergeserlah agak ke belakang. Ombak yang cepat tersebut akan menjadi lebih soft dan tidak berbahaya di point kedua dan seterusnya. Jika masih bingung dengan yang disebut point pertama atau kedua, jangan ragu untuk bertanya pada surfer setempat. Biasanya juga, surfer yang sudah mengambil ombak dari point pertama, mau memberikan ombaknya setelah riding beberapa saat, sehingg pemula bisa lebih mudah mendapatkan ombak di belakang.

Jangan menghalangi jalan surfer lain. Perhatikan lajur jalan surfboard, karena di Batukaras cukup mudah untuk menebak lajur ombaknya atau yang disebut dengan istilah line up. Usahakan untuk tidak menunggu ombak di tempat yang nanggung, kalau tidak di luar line up, sekalian saja menunggu di tempat ombak sudah pecah agar dapat mencoba untuk mengambil ombak buih.. ombak yang telah pecah.


Demikian tips-tips yang bisa saya bagi, mungkin terlihat remeh, tetapi hal-hal kecil ini dapat memudahkan kita untuk belajar surfing di tempat ramai. Pada lokasi lain, beda pula strateginya. Selamat mencoba J

Batukaras, kerajaan longboard

hiruk pikuk berebut ombak

Sabtu, 22 Februari 2014

Boti, keunikan suku asli Timor

Desa adat yang terletak di Timor Tengah Selatan itu namanya saja sudah terdengar unik dan eksotis, ditambah pula dengan perjalanan yang cukup menyita tenaga karena aksesnya yang bisa dikatakan rusak, Desa Boti, desa adat yang masih memegang teguh adat istiadatnya serta masih menjaga cara hidup yang sama seperti leluhur mereka layaknya suku Badui dalam.

  Jalan memang jelek sekali, Ibu.. bahkan kemarin waktu banyak hujan tidak bisa lewat. Bisa tapi susah sekali, lumpur..” Oom Nope guide kami yang keturunan raja itu menjelaskan sembari terbanting ke kiri dan kanan mengikuti gerakan mobil sewaan kami. Jalan kering saja sudah terasa heboh, gimana kalau hujan turun ya? Tapi pemandangannya luar biasa indah. Alam timor memang beda.

Tidak terlalu jauh sebenarnya jarak antara So’E, ibukota kabupaten Timor Tengah Selatan atau yang sering disingkat dengan TTS, dan desa Boti. Hanya sekitar 45 km saja. Hanya saja karena parahnya kondisi jalan, kami harus rela terombang ambing selama kurang lebih 2,5 jam.

“ Ganti celana panjang lebih baik, Ibu.” Ah rupannya saya harus merelakan celana pendek ini berganti panjang untuk menghormati desa itu. Saat istirahat sebelum memasuki desa Boti pun kami manfaatkan untuk meluruskan kaki dan pinggang, serta saya yang berganti celana. Rasa pegal dan lelah kalah oleh rasa penasaran. Akan seperti apa sih orang-orang suku Boti itu nanti?

“ Nanti  biar supirnya yang kasih sirih pinang  tanda pamit memasuki desa, dia sudah biasa, dan memang semua tamu harus kasih sirih ke kepala suku.”
“ Kita juga harus makan sirihnya?” tanya saya ngeri mengingat saya nggak suka sama sekali rasa sepet dari sirih setelah mencobanya waktu itu di Sumba. “ Nggak harus kok, cuma kepala sukunya saja nanti sama tetua kampung yang mau bergabung. Tamu tidak dipaksa untuk nyirih.” Fiuuuh…

kepala suku dan tetua desa di rumah dinas 


Beberapa artikel yang saya baca ketika merencanakan trip ini mengatakan bahwa tamu mempunyai tempat menginap sendiri, ada kamar mandinya, tapi makanan akan sangat tidak enak menurut standar orang kota yang terbiasa makan makanan berbumbu, karena masakan suku Boti cenderung hambar dengan tidak digunakannya minyak untuk menggoreng, serta terbatasnya garam. Semua serba rebus-rebusan. Hmmm kami sempat belanja mie instant sih untuk mengantisipasi hal itu. Judulnya : takut kelaparan hahahahaha.

Suku Boti ini merukapan salah satu suku dari 3 kerajaan yang kala itu menguasai TTS, Amanatun, Amanuban dan Molo, pemimpin di Boti bukanlah raja, melainkan kepala suku. Oya.. dan dari blog yang pernah saya baca juga, doski masih single loooh ( bantu promoin kepala suku Boti ).

Akhirnya sampai juga Suasana desa Boti ini asri banget. Jalan-jalan setapak dibuat rapi dengan susunan batu-batu besar dan kecil. Rumah berdinding bebak langsung terlihat di depan gerbang masuk, Itulah penginapan kami. Kamar mandinya terpisah tapi ada beberapa, jadi nggak perlu antri mandi. Airnya pasti dingiiiiiinn..

Beberapa ritual harus kami lewati sebelum blusukan di kampung Boti. Kepala suku dan beberapa tetua adat menyambut kami di ‘rumah dinas’. Karena mereka tidak lancar berbahasa Indonesia, dan kami boro-boro pernah dengar bahasa Dawan yang digunakan suku Boti, jadilah acara penerimanaan tamu berlangsung canggung untuk kami. Paling saling cengar cengir saja. Untung kepala suku tetap menerima sirih pinang kami dan sibuk meramunya dengan kapur yang membuat bibirnya bagaikan begincu seksi. Tadinya saya sudah kawatir saja harus ikut-ikutan begincu, ternyata untuk kami disediakan pisang goreng… iya digoreng!! Wah rupanya mereka pake minyak juga untuk mengolah makanan yang disediakan untuk tamu.

Hari sudah malam, jadi acara blusukan dibatalkan, jangan-jangan malah nyasar ke sungai pulak kalau nekad. Jadilah kami mengambil kamar-kamat yang tersedia di rumah bebak. Nggak ada lampu, apalagi tv. Acara malam itu nyemil dan gossip seputar si kepala suku yang curang karena ada listrik di rumahnya, sirik nih yeeeee :D

Bermalam di rumah bebak ternyata dingin karena ada aja celah-celah tempat udara malam bebas keluar masuk. Kampung Boti memang cukup dingin kalau malam, apalagi selama musim kering Juli-Agustus. Baju hangat wajib dibawa deh.

Paginya sarapan sudah tersedia di rumah raja. Rupanya kekawatiran kami akan makan sama sekali tidak beralasan. Makan 3 kali sehari mereka sediakan, menunya juga enak, dengan jagung bose sebagai makanan pokok pengganti nasi… eh nasi juga ada sih, tapi mumpung disini sikat jagung bose ajalah. Lanjut melihat proses pengolahan kapas hingga menjadi kain tenun mereka. Hebat looh, saking mandirinya mereka semua kebutuhan diproduksi sendiri, pangan, papan… termasuk sandang. Mereka punya kebun kapas sendiri. Salut!!

sok sok ikutan gabung belajar proses pengolahan kapas


Memproses kapas hingga menjadi sebuah kain yang indah merupakan syarat mutlak bagi gadis Boti yang harus dikuasai sebelum menikah.
“ Kami harus bisa menenun sebelum menikah kak..”
“ Kalau sudah menikah tidak boleh minta sama orang tua.” Salah satu gadis Boti yang sedang menenun meberikan penjelasan.

Pasangan muda Boti harus bisa memenuhi kebutuhan mereka sendiri tanpa dibantu orang tua apalagi tetangga saat mereka menikah nanti. Dengan menguasai tenun diharapkan ia dapat memenuhi kebutuhan sandang keluarganya. Bahkan seperti ada ujiannya loh, ia harus menenun dua buah selimut dan sebuah kain untuk keluarga pria sebelum lulus seleksi. Wah saya pasti gagal total ini sih…

Dari pihak laki-laki juga bukannya ongkang-ongkang kaki. Si pria sudah harus membangun rumah bulat, rumah adat mereka dan mengolah sepetak ladang, yang menjamin mereka nggak akan terlantar tidur dibawah pohon atau nggak bisa makan. Seru yaaa, jadi nggak ada tuh ceritanya  ngutang-ngutang dulu buat nikah, pinjam sana sini buat ribet orang lain untuk memenuhi kebutuhan mereka. Sangat bertanggung jawab.

ini yang namanya rumah bulat, tapi kita nggak boleh masuk :(


Urusan hukum juga unik banget disini. Layaknya suku Badui dalam, mereka nggak boleh melanggar aturan adat, termasuk memeluk kepercayaan Halaik. Beberapa kasus penyelesaian hukumnya sangat beda, contohnya jika ada yang ketahuan mencuri jagung tetangga, hukumannya adalah seluruh desa memberikan jagung kepada orang itu. Iya… dikasih! Tujuanya agar ia malu sekaligus agar ia memiliki jagung yang bisa ditanam untuk berkebun sehingga tidak perlu mencuri lagi. Luar biasa… Itu kalo urat malunya masih ada, kan diluar banyak yang dah putus urat malunya *curcol :D

Mereka tu ngehargain alam banget, contohnya waktu disuruh sama produser program untuk kembali memotong sebilah bamboo utuh dari pohonnya, ia keberatan dengan alasan, sayang bambunya karena kebutuhannya tidak sebanyak itu, biarlah bamboo itu tumbuh, kita pakai bamboo yang sudah ada di tanah saja.. Keren euuuuy.


Ketika akan berpamitan pun, kami kembali lapor ke ‘rumah dinas’, dan kepala suku memberikan syal tenunan sebagai tanda persahabatan. Kalau boleh dikatakan, saya terharu saat itu. Mereka baik banget!! Nggak ada artinya deh keribetan perjalanan menuju ke desa ini dibanding pengalaman yang didapat.

nyante sambil main Knobe, alat musik getar