Senin, 07 April 2014

Tips How to Selfie While Surfing


Selfie udah jadi kebutuhan primer di dunia persocialmediaan sekarang, nggak di darat atau di laut kebutuhan itu tidak pernah berubah sebenarnya. Meskipun banyak yang menghujat, tapi pada dasarnya hampir setiap orang punya jiwa narsis yang harus disalurkan, nah salah satunya dengan selfie ini.

Kita bisa membuat sebuah selfie yang tidak standar dengan pemilihan background yang tidak standar. Salah satunya adalah selfie saat menunggangi ombak. Berikut tipsnya:

• Pastikan kameramu tahan air, tanpa casing.
Saat ini ada beberapa macam brand yang memang memiliki kamera waterproof tanpa casing, ini akan sangat membantu karena lebih sederhana dan mudah dibawa-bawa.

• Gunakan peralatan tambahan yang disediakan.
Beberapa kamera yang diperuntukan untuk ekstrim sport mempunyai tambahan pegangan atau pengikat yang bisa mempermudah saat membawanya, seperti kaitan pada tangan. Untuk surfing malah sudah tersedia pengikat yang bisa ditempelkan pada ujung papan surfing segala.

• Gunakan alat pengapung
Ini sangat disarankan, rasa kehilangan kamera karena tenggelam saat telah mendapatkan ombak bagus itu nyeseknya dua kali! Kehilangan kamera dan kehilangan foto bagus. Alat pengapung basanya sudah disediakan sebagai aksesoris tambahan dari kamera.

karet hitam ditambahkan untuk digigit. Pegangan kuning ini mengambang.


• Kreatif dengan cara membawa
Untuk surfing, membawa kamera saat paddle memang bukan pekerjaan mudah, belum lagi kalau harus melakukan duck dive atau menyelam menembus ombak saat ombak besar datang. Coba ikatkan gagang kamera pada sesuatu yang enak untuk digigit, sehingga kita bisa mengigitnya dan tangan bebas untuk paddle. Atau bisa juga dikalungkan, tapi perhitungkan juga waktu yang dibuthkan untuk melepas kalung dan memindahkan kamera ke tangan. Karena tidak semua ombak itu santai.

• Gunakan pengaman tambahan
Tali adalah pilihan bijak, baik untuk dikalungkan atau untuk dikaitkan di tangan, tergantung kebiasaan saja. Baik juga untuk menambahkan pegangan yang mengapung yang mengapung sebagai alat bantu mengapung tambahan. Perlu juga diperhitungkan jika pinggiran pantainya batu atau karang, akan bisa merusak kamera jika sampai terlepas dan terbawa buih hingga ke pinggir.

• Posisi kamera

 Apakah ombakmu barrel atau biasa, keren2 aja 
kamu pegang dengan tangan depan atau belakang, keduanya bisa menunjukkan ke –barrel-an mu juga jalur gerakan boardmu kalau melakukan maneuver. Yang perlu diingat adalah selalu lirik ke kamera untuk memastikan arah lensanya, jangan sampe udah susah-susah tapi malah muka nggak masuk frame.


kamera saya pegang dengan tangan depan



Naah ini dia versi seriusnya :
taken from Instagram Marlongerber
kamera dipegang pada tangan depan

taken from Instagram Marlongerber
kamera dipegang pada tangan belakang

Selamat ber #selfie ria di #ombak #wave :)))))




Sabtu, 15 Maret 2014

Tips belajar surfing di Batukaras

Berkali-kali diekspose media, bahkan sampe masuk lonely planet segala, Batukaras emang udah beken banget. Sebagai tempat belajar, Batukaras juga pas banget karena karakter ombaknya yang ramah untuk pemula, pleus nggak ada karang di dasar tempat bermainnya. Karangnya hanya menclok sebagian di pinggir.

Untuk menuju kesanapun banyak cara yang bisa ditempuh. Oya, letaknya di Jawa Barat bagi yang belum tau secara pasti posisi Batukaras ini. Nggak jauh dari Pangandaran. Baik trasportasi publik maupun mobil pribadi, bisa menjangkau tempat ini, hanya saja harus kuat duduk karena jaraknya yang lumayan kalau dari Jakarta, sekitar 8 sampai 10 jam tergantung kelancaran lalu lintas. Bagi yang pengen lebih cepat, ada pula penerbangan regular dari Halim dan Bandung dengan Susi Air, hanya 40 menit saja.

Naah, ternyata eh ternyata, setelah beberapa teman saya berkunjung kesana untuk belajar surfing, mereka malah mengeluh karena Batukaras ramai banget! Turis yang datang banyak, surfer lokal juga banyak, ditambah pula surfer anak-anak yang masih semangat mengambil ombak tanpa henti. Untungnya Batukaras ini mempunyai ombak yang sangat panjang, sehingga area surfingnya tidak terbatas di satu titik sempit saja. Berikut beberapa tips untuk teman-teman yang mau belajar surfing di Batukaras :

• Pada saat pertama kali berkunjung pastinya akan melihat longboard dan sortboard hilir mudik di ombak-ombak Batukaras. Hal ini tentunya memancing rasa ingin mencoba. Sangat disarankan bagi yang baru pertama kali mencoba surfing untuk mencari ‘guru’ dari surfer lokal setempat. Akan lebih bijaksana jika kita mengenal bahaya yang mungkin ada seperti terantuk papan karena salah posisi saat ombak datang. Guru atau instruktur juga dapat mengajari dasar-dasar surfing sebelum kita terjun langsung, hal ini akan mempersingkat waktumu untuk mencoba memahami dasar dari surfing tersebut.

• Ombak yang pecah di area depan disebut point Pertama. Point ini cenderung lebih cepat dan serius ombaknya karena dasar yang lebih dangkal dan berkarang. Tidak disarankan bagi pemula untuk surfing di area ini (point pertama ) karena akan membahayakan diri sendiri dan juga surfer lainnya.

Bergeserlah agak ke belakang. Ombak yang cepat tersebut akan menjadi lebih soft dan tidak berbahaya di point kedua dan seterusnya. Jika masih bingung dengan yang disebut point pertama atau kedua, jangan ragu untuk bertanya pada surfer setempat. Biasanya juga, surfer yang sudah mengambil ombak dari point pertama, mau memberikan ombaknya setelah riding beberapa saat, sehingg pemula bisa lebih mudah mendapatkan ombak di belakang.

Jangan menghalangi jalan surfer lain. Perhatikan lajur jalan surfboard, karena di Batukaras cukup mudah untuk menebak lajur ombaknya atau yang disebut dengan istilah line up. Usahakan untuk tidak menunggu ombak di tempat yang nanggung, kalau tidak di luar line up, sekalian saja menunggu di tempat ombak sudah pecah agar dapat mencoba untuk mengambil ombak buih.. ombak yang telah pecah.


Demikian tips-tips yang bisa saya bagi, mungkin terlihat remeh, tetapi hal-hal kecil ini dapat memudahkan kita untuk belajar surfing di tempat ramai. Pada lokasi lain, beda pula strateginya. Selamat mencoba J

Batukaras, kerajaan longboard

hiruk pikuk berebut ombak

Sabtu, 22 Februari 2014

Boti, keunikan suku asli Timor

Desa adat yang terletak di Timor Tengah Selatan itu namanya saja sudah terdengar unik dan eksotis, ditambah pula dengan perjalanan yang cukup menyita tenaga karena aksesnya yang bisa dikatakan rusak, Desa Boti, desa adat yang masih memegang teguh adat istiadatnya serta masih menjaga cara hidup yang sama seperti leluhur mereka layaknya suku Badui dalam.

  Jalan memang jelek sekali, Ibu.. bahkan kemarin waktu banyak hujan tidak bisa lewat. Bisa tapi susah sekali, lumpur..” Oom Nope guide kami yang keturunan raja itu menjelaskan sembari terbanting ke kiri dan kanan mengikuti gerakan mobil sewaan kami. Jalan kering saja sudah terasa heboh, gimana kalau hujan turun ya? Tapi pemandangannya luar biasa indah. Alam timor memang beda.

Tidak terlalu jauh sebenarnya jarak antara So’E, ibukota kabupaten Timor Tengah Selatan atau yang sering disingkat dengan TTS, dan desa Boti. Hanya sekitar 45 km saja. Hanya saja karena parahnya kondisi jalan, kami harus rela terombang ambing selama kurang lebih 2,5 jam.

“ Ganti celana panjang lebih baik, Ibu.” Ah rupannya saya harus merelakan celana pendek ini berganti panjang untuk menghormati desa itu. Saat istirahat sebelum memasuki desa Boti pun kami manfaatkan untuk meluruskan kaki dan pinggang, serta saya yang berganti celana. Rasa pegal dan lelah kalah oleh rasa penasaran. Akan seperti apa sih orang-orang suku Boti itu nanti?

“ Nanti  biar supirnya yang kasih sirih pinang  tanda pamit memasuki desa, dia sudah biasa, dan memang semua tamu harus kasih sirih ke kepala suku.”
“ Kita juga harus makan sirihnya?” tanya saya ngeri mengingat saya nggak suka sama sekali rasa sepet dari sirih setelah mencobanya waktu itu di Sumba. “ Nggak harus kok, cuma kepala sukunya saja nanti sama tetua kampung yang mau bergabung. Tamu tidak dipaksa untuk nyirih.” Fiuuuh…

kepala suku dan tetua desa di rumah dinas 


Beberapa artikel yang saya baca ketika merencanakan trip ini mengatakan bahwa tamu mempunyai tempat menginap sendiri, ada kamar mandinya, tapi makanan akan sangat tidak enak menurut standar orang kota yang terbiasa makan makanan berbumbu, karena masakan suku Boti cenderung hambar dengan tidak digunakannya minyak untuk menggoreng, serta terbatasnya garam. Semua serba rebus-rebusan. Hmmm kami sempat belanja mie instant sih untuk mengantisipasi hal itu. Judulnya : takut kelaparan hahahahaha.

Suku Boti ini merukapan salah satu suku dari 3 kerajaan yang kala itu menguasai TTS, Amanatun, Amanuban dan Molo, pemimpin di Boti bukanlah raja, melainkan kepala suku. Oya.. dan dari blog yang pernah saya baca juga, doski masih single loooh ( bantu promoin kepala suku Boti ).

Akhirnya sampai juga Suasana desa Boti ini asri banget. Jalan-jalan setapak dibuat rapi dengan susunan batu-batu besar dan kecil. Rumah berdinding bebak langsung terlihat di depan gerbang masuk, Itulah penginapan kami. Kamar mandinya terpisah tapi ada beberapa, jadi nggak perlu antri mandi. Airnya pasti dingiiiiiinn..

Beberapa ritual harus kami lewati sebelum blusukan di kampung Boti. Kepala suku dan beberapa tetua adat menyambut kami di ‘rumah dinas’. Karena mereka tidak lancar berbahasa Indonesia, dan kami boro-boro pernah dengar bahasa Dawan yang digunakan suku Boti, jadilah acara penerimanaan tamu berlangsung canggung untuk kami. Paling saling cengar cengir saja. Untung kepala suku tetap menerima sirih pinang kami dan sibuk meramunya dengan kapur yang membuat bibirnya bagaikan begincu seksi. Tadinya saya sudah kawatir saja harus ikut-ikutan begincu, ternyata untuk kami disediakan pisang goreng… iya digoreng!! Wah rupanya mereka pake minyak juga untuk mengolah makanan yang disediakan untuk tamu.

Hari sudah malam, jadi acara blusukan dibatalkan, jangan-jangan malah nyasar ke sungai pulak kalau nekad. Jadilah kami mengambil kamar-kamat yang tersedia di rumah bebak. Nggak ada lampu, apalagi tv. Acara malam itu nyemil dan gossip seputar si kepala suku yang curang karena ada listrik di rumahnya, sirik nih yeeeee :D

Bermalam di rumah bebak ternyata dingin karena ada aja celah-celah tempat udara malam bebas keluar masuk. Kampung Boti memang cukup dingin kalau malam, apalagi selama musim kering Juli-Agustus. Baju hangat wajib dibawa deh.

Paginya sarapan sudah tersedia di rumah raja. Rupanya kekawatiran kami akan makan sama sekali tidak beralasan. Makan 3 kali sehari mereka sediakan, menunya juga enak, dengan jagung bose sebagai makanan pokok pengganti nasi… eh nasi juga ada sih, tapi mumpung disini sikat jagung bose ajalah. Lanjut melihat proses pengolahan kapas hingga menjadi kain tenun mereka. Hebat looh, saking mandirinya mereka semua kebutuhan diproduksi sendiri, pangan, papan… termasuk sandang. Mereka punya kebun kapas sendiri. Salut!!

sok sok ikutan gabung belajar proses pengolahan kapas


Memproses kapas hingga menjadi sebuah kain yang indah merupakan syarat mutlak bagi gadis Boti yang harus dikuasai sebelum menikah.
“ Kami harus bisa menenun sebelum menikah kak..”
“ Kalau sudah menikah tidak boleh minta sama orang tua.” Salah satu gadis Boti yang sedang menenun meberikan penjelasan.

Pasangan muda Boti harus bisa memenuhi kebutuhan mereka sendiri tanpa dibantu orang tua apalagi tetangga saat mereka menikah nanti. Dengan menguasai tenun diharapkan ia dapat memenuhi kebutuhan sandang keluarganya. Bahkan seperti ada ujiannya loh, ia harus menenun dua buah selimut dan sebuah kain untuk keluarga pria sebelum lulus seleksi. Wah saya pasti gagal total ini sih…

Dari pihak laki-laki juga bukannya ongkang-ongkang kaki. Si pria sudah harus membangun rumah bulat, rumah adat mereka dan mengolah sepetak ladang, yang menjamin mereka nggak akan terlantar tidur dibawah pohon atau nggak bisa makan. Seru yaaa, jadi nggak ada tuh ceritanya  ngutang-ngutang dulu buat nikah, pinjam sana sini buat ribet orang lain untuk memenuhi kebutuhan mereka. Sangat bertanggung jawab.

ini yang namanya rumah bulat, tapi kita nggak boleh masuk :(


Urusan hukum juga unik banget disini. Layaknya suku Badui dalam, mereka nggak boleh melanggar aturan adat, termasuk memeluk kepercayaan Halaik. Beberapa kasus penyelesaian hukumnya sangat beda, contohnya jika ada yang ketahuan mencuri jagung tetangga, hukumannya adalah seluruh desa memberikan jagung kepada orang itu. Iya… dikasih! Tujuanya agar ia malu sekaligus agar ia memiliki jagung yang bisa ditanam untuk berkebun sehingga tidak perlu mencuri lagi. Luar biasa… Itu kalo urat malunya masih ada, kan diluar banyak yang dah putus urat malunya *curcol :D

Mereka tu ngehargain alam banget, contohnya waktu disuruh sama produser program untuk kembali memotong sebilah bamboo utuh dari pohonnya, ia keberatan dengan alasan, sayang bambunya karena kebutuhannya tidak sebanyak itu, biarlah bamboo itu tumbuh, kita pakai bamboo yang sudah ada di tanah saja.. Keren euuuuy.


Ketika akan berpamitan pun, kami kembali lapor ke ‘rumah dinas’, dan kepala suku memberikan syal tenunan sebagai tanda persahabatan. Kalau boleh dikatakan, saya terharu saat itu. Mereka baik banget!! Nggak ada artinya deh keribetan perjalanan menuju ke desa ini dibanding pengalaman yang didapat.

nyante sambil main Knobe, alat musik getar

Kamis, 30 Januari 2014

Seger Emang Segar :D

Suasana Kuta nyaris tak berubah sejak kunjungan saya sebelumnya. Warung-warung makan non permanen yang meskipun sederhana tapi menyajikan pizza dan kawan-kawan di dalamnya, berjajar sebelum kami menyisiri jalan kecil di tepi pantai. Ah ada yang berubah, warung2 itu sekarang tidak lagi terletak di tepi pantai, sehingga pemandangan tak terhalang. Good!

"kalau di Kuta ini, sudah terkenal sebagai pusatnya surfing,mba... Naah di pantai sana itu" pak Made yang menjadi supir kami menjelaskan dengan semangat.
"Tanjung An ato Seger, pak?" tanya saya.
"Wah nggak tau namanya, pokoknya pusatnya disana. Ombaknya besar!" kok jadi seperti promo pusat jajanan yak..

Beberapa kendala promosi di daerah salah satunya ya seperti ini. Bagaimanapum juga praktisi lebih dalam untuk masalah informasi. Tapi pak Made ini memang jempolan soal pede, jawaban singkatnya ketika saya minta seorang surf guide adalah " Wah nda usahlah surf guide segala, wong ada saya yang tau juga". Dhueeeng...

Mul, nama surf guide yang bergabug bersama kami untuk proses syuting Trekker setelah dengan suksesnya saya mengindahkan pak Made, membawa kami ke Seger.

"Saat ini swell nggal terlalu besar, cuma Grupuk Outside dan Seger yang bisa dipakai."
" Tapi bakal rame sama lokal." Wadiuh.. Jurus kedip-kedip minta dikasih ombak kudu dikeluarkan dong niiih...

Seger sendiri adalah salah satu lokasi surfing di daerah Kuta, Lombok Tengah ini. Letaknya lumayan dekat, sebelum penyebrangan ke Grupuk. Dari pantai ini kita bisa melihat hotel Novotel nangkring manis dari kejauhan. Jalan masuk ke Seger ini menurut saya super eksotis, bisalah untuk jadi setting film Jurasic Park karena kesannya yang purba keren. Berbukit bukit karang tapi masih ditumbuhi rumput-rumput. Mungkin di musim panas akan menjadi sangat coklat.

Kita bisa naik ke salah satu bukitnya untuk mendapatkan sudut pandang yang berbeda saat menonton para surfer beraksi, belasan meter dibawah kita. Cuma dikit pe er pas naiknya aja. Dikiiiit. Harus mau ngos-ngosan buat naik, tapi begitu nyampe diatas pemandangannya bisa untuk ngebayar rasa capeknya, apalagi kalau keatas bawa singkong dan kopi,waaaah makin nikmat!

"Ada cewek loooh sekarang di Lombok, anak asli suku Sade." Mul cerita dengan semangatnya.
" Berapa tahun umurnya?"
" Baru 14 tahun." Waaah, bakal cepat bisa dan pasti bagus dia karena memulai sejak dini. Nggak kaya saya yang telat. Biar telat yang penting mencelat #halah. Seru banget nih kalau sampai ada generasi baru yang mulai surfing. Apalagi Lombok tidak pernah kekurangan ombak, pastinya dia akan bisa memilih sepuasnya jenis ombak di rumahnya ini. 

Sesuai perkiraan, saat kami akan paddle out, air memang telah pasang secukupnya, karena saya tidak membawa sepatu karang. Seger memang berdasar karang, dan karakternya ombaknya cukup cepat. Saat 4 feet keatas ombak ini akan cukup heavy dan serius. Beruntung saat saya disana ombaknya pas banget. Tidak terlalu besar.

Wooow, ternyata memang ramai sekali.  Kemampuan membaca ombak dan meninggalkan sifat mengalah harus ditingkatkan niiih. Sementara para lokal ini sudah hafal mati dengan lokasi take off, saya masih meraba-raba dan adaptasi dengan karakter ombaknya. Mana kamera sudah manteng pula. Mau nggak mau saya harus mendapatkan ombak sebanyak-banyaknya.

"Hai, kamu Lisa ya?"
" Iya kak, nama kakak siapa?" Ia balas menyapa dengan ramah.

Disela surfing, akhirnya saya bertemu dengan surfergirl lokal itu, Lisa. Gadis 14 tahun yang berani ini tampak higam legam, tapi tetap manis. Rupanya ia memang surfing setiap hari setelah usai sekolah. Nggak heran hitamnya mentok hahahaha.

" Siapa yang ajarin kamu surfing dulu? Kamu dikasih papan?"
" Teman-teman semua yang ajari saya. Papan ini dikasih salah satu teman saya yang sudah pulang ke Belanda. Tapi ukurannya besar sekali." Wah rupanya kesupelannya membuat ia banyak teman. Karena banyak teman itu jugalah yang membuka kesempatannya untuk lebih mendalami surfing.

"Saya sudah coba ombak Mawi juga." ujarnya saat ditanya point mana saja yang sudah dijajal. Kalau kata Mus sih, si Lisa ini berani, ombak besar juga dia sikat. Ombak kiri dan kanan tidak ada bedanya untuk dia. Wuih.. Mantap!

Lisa membantu ekonomi keluarganya dengan berjualan gelang layaknya anak-anak kecilnya lainnya di tempat surfing itu. Jika beruntung gelang mereka akan dibeli dengan harga 10.000-15.000 satunya. Dan biasanya memang tak susah untuk mereka meluruhkan hati para turis surfing yang ada disana dengan wajah dan mata yang polos.

Lombok memang seperti Bali 20 tahun yang lalu. Satu saat nanti scene surfing di Lombok akan lebih maju, sejalan dengan semakin tingginya kesadaran masyarakat Lombok untuk ikut menjaga kenyamanan dan keamanan para turis juga.. Satu hari..










video




Selasa, 07 Januari 2014

Surf off season? Why not :)

"Sepi banget Oom Mus, ga ada tamu lain ya?" tanya saya sembari celingak celinguk saat kunjungan terakhir ke Rote dan seperti biasa, langsung ngedon di Anugerah .
"Iya soalnya lagi off season, jadi resort lain juga tutup. Tamu sedikit banget yang datang kalau bulan-bulan begini" Jelasnya sembari melayangkan pandangan ke laut yang terlihat tenang.

Off season memang merupakan istilah yang umum dipakai saat bulan-bulan sepi yang biasanya melanda surf camp tertentu termasuk Nembrala yang berada di Rote ini. Bulan sepi ini bisa disebabkan karena berubahnya arah angin. Sementara seperti yang diketahui para kalangan surfer, ombak yang bagus itu kalau anginnya off shore, atau bertiup dari darat ke laut, sehingga ombak yang terbentuk mendapatkan tahanan dari angin tersebut, dan tidak akan pecah atau menutup terlalu cepat. Hasilnya sih pastinya ombak mulus sexy yang menggoda para surfer.

Sebaliknya, jika angin bertiup dari laut meuju darat, ini dinamakan kondisi on shore, kondisi yang sangat disebelin karena ombak menjadi lebih cepat menutup, tidak memberikan jalan bagi surfer untuk melakukan manuver. Jadi susah kan kalau mau pamer-pamer cut back atau snap #gapenting

Beberapa lokasi bagus saat musim hujan dan sebaliknya ada yang bagus saat musim kemarau. Inilah kelebihan Indonesia yang ombaknya bisa dipakai sepanjang tahun, tinggal disesuaikan saja lokasinya and off you go for surf trip!!

"Tapi ombak bagus Oom Mus, tu nggak ada angin, size juga oke-oke aja kelihatannya, tidak flat mesikupun juga nggak besar."
"Iya memang, saat ini lagi bagus, tapi kemarin-kemarin memang hujan badai, dan kapal dari Kupang sempat tidak jalan."

Jika beruntung memang kondisi saat off season pun bisa sangat bagus. Sesiangan itu hujan memang turun tanpa henti, memaksa saya bengong sambil nyemil kopi dan mie instant tanpa henti ( cari pembenaran nyemil ), dan ketika hari beranjak sore dimana air laut semakin surut, anginpun turut berhenti, memberikan kesempatan pada ombak Nembrala menampilkan kecantikan bentuknya.

Hanya ada satu masalah. Tidak ada perahu. Kenapa tidak ada perahu saja jadi masalah? Emangnya surfing pakai perahu? Nah, jarak point dimana ombak terbentuk itu memang hanya 300 meter, tapiii.... kita harus melewati batu-batu diantara karang-karang yang terbentang luas, diselingi ladang rumput laut penduduk yang juga terbentang sepanjang itu.

Rumput laut memang merupakan salah satu mata pencaharian pokok disana. Melewati tali temali dan patok-patok rumput laut sembari menggotong surfboard, dan yang paling parah... tidak punya sepatu karang itu adalah siksaan bagaikan terpaksa naik busway di jam pulang kantor, keliing Jakarta 3 kali, harus berdiri serta AC nya mati. Meneror mental.

Di hari pertama memang cuma saya sendiri yang surfing. Rasanya sungguh aneh, apalagi saya tidak pernah menyarankan pada siapapun untuk surfing sendiri. Meski begitu saya sangat mengenali kondisi yang ada, apalagi ombak tidak terlalu besar, dan Pinneng berdiri di gugusan karang sebagai patokan saya. Meski pada akhirnya ialah yang panik melihat saya terbawa arus jauh saat mencari posisi yang pas.

Hari berikutnya Mike, si dive guide akhirnya ikut menemani. 







Beberpa lokasi di Indonesia yang mengalami off season juga banyak, seperti Nias, G land di Jawa Timur, beberapa resort di Mentawai juga mengalaminya. Surf spot yang akrab dengan saya seperti Cimaja dan Batukaras sih memang tidak mengenal off season, tapi mereka tetap mengenal waktu-waktu dimana ombak sedang bagus-bagusnya.

Sebenarnya untuk beberapa lokasi yang most wanted seperti Nembrala dan Nias, saya lebih suka saat-saat sepi dengan beberapa alasan :

• Tidak perlu berebutan dengan surfer-surfer lain yang mayoritas cowo-cowo bule berotot dan memiliki paddle sekencang kapal cepat antar pulau.
• Biasanya ombak tidak terlalu besar. Tapi kecil untuk ukuran Nias itu aja artinya sama seperti besarnya Cimaja. Begitu juga Nembrala. Jadi saya nggak terlalu keberatan, justru senang dengan size yang tidak menyeramkan. Bisa surfing sambil ha ha hi hi.
• Suasana yang lebih santai, bisa lebih berkumpul dengan para lokal, karena mereka juga tidak terlalu sibuk jadinya dengan sedikitnya tamu.

Jadi... siapa yang mau nemenin saya surfing di musim ujan kali ini? :D